Kenapa kita jatuh ke jurang? Karena kita dekat2 dengan jurang itu.
Tidak akan pernah jatuh kalau posisi kita beratus2 kilometer jaraknya dari jurang.
Hal sesimpel ini tidak akan mudah masuk penjelasan bagi orang-orang yang suka sekali dekat2 dengan 'jurang harapan', hingga suatu saat, jatuhlah dia dalam jurang itu, dan terbebanilah perasaanya dengan rasa sakit.
--Tere Liye
Saya ini pecandu harapan kelas berat, yang bisa saja ngayal sambil mengendarai motor, dan lupa berhati-hati.
Seringkali terbang tinggi sendiri, lupa dengan bumi, berhari-hari.
Ketika tersadar bumi sudah pagi.
Pagi, terang, mata tak lagi bisa dibohongi, luka itu menganga.
Dibiarkan saja. Toh esok akan sembuh sendiri.
Tak ada yang rugi, bahkan ayam yang berkokok tiap pagi pun tidak.
Saya sendiri pun tak merasa rugi.
Sebab selain pecandu harapan, saya terhitung pelupa.
Harapan-harapan yang beterbangan tinggi saat malam hari, hilang begitu saja ketika ayam berkokok.
Benarkah?
Ah jangan ingatkan kalau saya ini pembohong yang manis.
Toh waktu takkan marah jika dibohongi.
/Angan-angan lalu beterbangan tinggi, melupakan bumi.
/Menari.
/Melagukan sepi, sepotong hatinya dibawa lari.
/Maka ia membenci pagi.
/Lupa bahwa ia masih layak menetap di bumi, lalu bertemu sepotong hati baru dan jatuh cinta lagi.
/Jurang harapan yang bergelantungan rapi di langit membiru bukanlah potongan hati yang hilang itu.
/Tidurlah sebelum pergantian hari.
/Lalu bertemu pagi dan menikmati secangkir realita.
Regard,
Pecandu-Pelupa-Pagi
No comments:
Post a Comment