Monday, 5 June 2017

Juni

Berulang kali aku menuliskan hal yang sama, tentang rindu.
Kepada kamu, yang dengan sabar menentramkan gundahku. Kau berikan waktu di antara sibukmu untuk bertukar kabar.
Terimakasih. Aku rindu.
Cukup disini ku tuliskan. Semoga kau baik baik disana.

Tuesday, 7 March 2017

Pria di Mimpi.

Beberapa hari belakangan, aku mengingat mimpi mimpi yang kualami setelah terbangun dari tidur.
Ini gara gara terlalu banyak yang dipikirin atau tidurnya yang kelamaan?? Heu.

Mimpi indah itu cukup terjadi saat tidur, kemudian mengingat detil mimpi itu saat terbangun tidaklah menyenangkan. Mimpi tentang pria yang di dunia nyata sudah beristri, bertemu di mimpi saja cukup. Mengingatnya itu yang menyebalkan. Adalagi tentang pria yang tinggalnya terpisah ribuan kilometer, bertemu di dunia nyata sangat tidak mungkin. Lalu berharap dan berkhayal hidup bersama, seperti tahan banting saja hatimu Han. Jika suatu hari ada kabar dia ternyata sudah beranak dan beristri, gimana lagi kamu menyelamatkan hatimu yang kamu patahkan sendiri??

Ngarep dan bermimpi. Bukan sesuatu yang layak dijadikan hobi. Setiap hari begitu, bagaimana kamu bisa menghadapi masa depan?
Disindir sedikit saja langsung baper. Gagal tes pauli terus mewek.
Usahamu mana?
Semua orang bekerja untuk cita cita dan hidup mereka, kamu ngapain? tidur, mimpi, ngarep?? begitu terus.

Membayangkan melepas kenyamanan di kota ini saja kamu tak sanggup.
Mau dibawa kemana hidupmu? sudah 26 lho.

Aku pengen pergi, ribuan kilometer dari sini, biar ada kesempatan ketemu si masnya itu.
Kabur.
Kabur.
Kabur.
Biar dibilang mengejar mimpi ke luar negeri, padahal alasan sebenarnya kamu tak sanggup lagi berjuang. Tak mampu lagi menghadapi pertanyaan semua orang. "Kenapa belum bekerja?" "Kapan mau nikah?"

Kabur adalah tindakan pengecut. Itulah yang ku rencanakan.
Aku hanya ingin pergi, ribuan kilometer dari sini, biar tak ada yang nanya lagi, kapan aku rabi. Damn. Kalau gak bisa nyariin calon suami stop nanyain napa.

Baper.

Semoga ada jalan untuk kabur. Untuk beberapa waktu. Ribuan kilometer dari sini. Dari kota ini yang kelewat nyaman untuk ditinggal pergi.

Aku akan pergi, membawa ransel berisi mimpi, ketemu kamu lagi pagi ini, meski lewat mimpi.

Cium jauh untuk mas ganteng yang disana.
Sampai ketemu. Di dunia nyata.

Selamat tidur, pagi.

Friday, 3 March 2017

Kau datang di waktu yang tepat.

Awal tahun ini terasa sangat melelahkan, harus tetap bertahan, tanpa topangan.
Kehilanganmu, penyesalan penyesalan, berat sekali menanggung semua sendiri.
Mungkin kamu adalah alasanku, kamu yang selalu mendengarmu.
Berapa bulan sudah tak ada komunikasi?
Belum ada penggantimu.
Ingin aku mendengarmu mengatakan, semua akan baik baik saja dan kamu perempuan yang kuat, cukup.
Tidak, jika aku sampai menghubungimu, itu tidak akan cukup sekali.
Akan lebih sulit lagi merelakanmu.

Begini ternyata perihnya kehilangan,
akhirnya kepengecutanku membuat kamu pergi,

bimbang, lelah, pedih
pilihan terakhirnya adalah kabur dari kota ini
menghitung hari hingga kepindahanku

Semoga aku dipertemukan dengan kesempatan kesempatan baru di kota tujuanku.
H-29

Tuesday, 28 February 2017

Your Turn.

Butuh menulis, sebab sesak di dada dan pikiran sudah terlalu parah kadarnya.
Menulis sebab itulah yang murah, dan mudah.
Ketika pendengarmu, satu satunya tempatmu berkeluh kesah akhirnya ke pelaminan.

Sudah berganti tahun, umur genap 26. Masih sendiri. Seringkali ditanya kapan nikah, ah sudahlah.

Resolusi tahun 2017 ini,
- Jatuh Cinta lagi
- Pergi ke Jepang dan tinggal disana lebih dari satu tahun
- Mengurangi makan nasi dan mi instan

Semoga terwujud!! Amiiinn

Thursday, 21 January 2016

Selamat Berpisah

   Aku pernah berharap jika suatu hari akan tiba kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku padamu. Hari itu tiba. Kita bisa berbicara lagi dengan baik-baik, mengakhiri cerita kita yang hanya ilusi. Aku yang memilih memulai pertengkaran itu, melangkah pergi dari cerita kita.

   Pada saat itu, dengan penuh amarah aku mencari alasan apapun untuk bisa pergi. Amarah menguasaiku karena kekecewaan berkali-kali kamu menghilang, rasa putus asa menunggu kabar darimu, rasa lelah menunggu bahwa pagi nanti kamu akan memberi kabar. 

   Beberapa kali kamu menghilang membuatku ragu, apa yang sebenarnya aku tunggu, bagaimana sebenarnya perasaan yang kumiliki tentangmu, aku takut jika memilihmu berarti aku kehilangan mereka yang menyayangiku. Aku takut jika memilihmu namun perasaan yang kumiliki padamu bukanlah cinta.

    Kita bertemu di dunia ilusi, tanpa sekalipun kesempatan bertemu di dunia nyata. Lalu jika kita diberi kesempatan bertemu ternyata kamu bukanlah kamu yang selama ini dibenakku, sepertinya aku akan berlari menjauh. Mendengar suaramu, berbicara denganmu tiap malam, menciptakan imajinasi tersendiri tentang sosokmu. Cerita-ceritamu, alunan gitarmu, kesukaan pada penulis yang sama, kamu membuatku merasa istimewa.

   Ini kesalahanku meragukanmu, salahku belum siap kehilangan kebebasanku. Aku memilih pergi dan itu keputusan yang sudah terjadi. 

Terimakasih untuk waktu bersama yang menyenangkan.
Terimakasih untuk perasaan bahagia diperlakukan istimewa.
Terimakasih untuk mengajariku kesabaran, memaafkan, dan berani mengakui kesalahan.

Cerita ilusi kita berakhir sudah, di bulan Januari.
Mari saling mendoakan masing-masing segera mendapat pendamping di dunia nyata.

Selamat tinggal Ilusi. 



PS. kamu bertanya kenapa aku tak menulis lagi, jika kamu membaca ini, tulisan pertamaku di 2016 ini untuk kamu.
Aku berharap kamu berkunjung ke kotaku, ada kedai kopi bernama KLINIKKOPI yang menjual kopi hasil mereka brewing sendiri.