Thursday, 6 December 2012

Apa Cita-Citamu?

      Pertanyaan itu terngiang-ngiang terus di kepala saya, sederhana, saya masih belum bisa menjawabnya. Apa harus saya jawab saat itu juga? lalu otak dan hati saya mendadak kelu. Saya benar-benar tidak tahu apa jawabannya, singkatnya saya tidak tahu apa cita-cita saya.
      Saya sensi sekali jika ada yang bertanya mengenai cita-cita pada saya. Pertanyaan ini tentunya memiliki jawaban, anak SD saja bisa menjawabnya, cita-cita mereka bermacam-macam, ingin menjadi dokter, menjadi pilot, menjadi superhero, tak akan ada habisnya jika mereka ditanya tentang apa cita-citanya. Lalu pertanyaan itu dilontarkan oleh Ibuk pada saya suatu sore, saya hanya tersenyum saja, pahit.
      1989.Ibuk menikah dengan Bapak sebelum menyelesaikan kuliah, alasannya karena orangtua Ibuk tidak sanggup membiayai kuliah Ibuk. Dengan terpaksa Ibuk putus kuliah dan menikah dengan Bapak, meninggalkan bangku kuliah tanpa ijazah, memupuskan cita-citanya menjadi seorang Guru Matematika.
      Awal 1991, lahirlah bayi perempuan, anak pertama yang lahir di perantauan, jauh dari orangtua, kemudian Bapak dan Ibuk memutuskan pulang kampung. Ibuk mengubur cita-cita lamanya, dengan cita-cita baru Ibuk survive, kerja serabutan agar bayinya bisa memakai baju baru yang layak. Cita-cita Ibuk adalah melihat anak-anaknya bisa kuliah, Ibuk memeras keringat bekerja dari jam 6 pagi hingga maghrib.
      2012... Anak perempuannya mengulur-ulur kelulusannya dan anak kedua, laki-laki 7 tahun lebih muda dari si kakak, sedang dalam masa pubertas di SMP.
Cerita ini belum berakhir.
      Pertanyaan itu sudah ada jawabannya, entah benar atau salah. Apa 'cita-cita' saya? Saya tidak ingin menjadi seperti ibuk saya, menikah lalu mengubur cita-citanya, terlalu sibuk bekerja hingga lupa bahwa anak-anaknya membutuhkan kasih sayang, bukan cuma uang. Saya ingin menikah dan menjadi ibu rumah tangga, 24 jam selalu ada untuk anak-anak saya kelak.
Hahaha.. itu mungkin bukan cita-cita, sebab itu kewajiban bagi seorang wanita.
      Saya masih punya cita-cita lain yang akhirnya tercapai setelah 8 tahun, entah itu cita-cita, harapan, doa, entah apalah namanya. 8 tahun untuk cita-cita sederhana, saya menginginkan keluarga harmonis seperti keluarga lain dan melihat Bapak Ibuk saling mendukung satu sama lain.

Fin.

No comments:

Post a Comment