Wednesday, 28 May 2014

Hatiku Dekat,

"Meski jarak kita jauh, tapi hatiku dekat.."

Umpamanya bintang yang bersinar setiap malam, bahkan sebenarnya bintang itu tetap bersinar pada siang hari, hanya saja karena siang terlalu terang maka bintang tak terlihat. Bukankah bintang itu tetap ada?


Awalnya kamu itu bulan, hanya bisa melihatmu bersinar terang, mengagumimu diam-diam dari balik jendela. Biar saja begitu, selama aku masih bisa melihatmu meski harus berbagi dengan yang lain. Biar kamu tetap di langit yang tinggi, tak terjangkau, namun cahayamu menyejukkan.

Tiga kata.

Bukan lagi bulanku. Kamu bintangku kini.
Kamu bukan Kryptonite kan?
Di dekatmu aku lemah, mungkin mendekati mati.

Satu rasa.
Komitmen dan kesetiaan.


"Aku tersesat Han, menuju hatimu.."


Menunggu kepulanganmu,
Kamu lah lelaki yang memenuhi inginku tentang bayangan menua bersama, berpelukan di beranda dan saling menjaga.
Kamu yang ku harapkan menyempurnakan separuh yang hilang.
Kamu, Cintaku.


Dear Sayang,
Segera pulang, semoga tidak tersesat, aku menunggumu disini.



With Love - Hani.



Wednesday, 19 March 2014

unwell

mungkin jatuh cinta itu membuatmu susah konsentrasi pada hal selain yang membuat hatimu berdegup kencang,
tapi patah hati lebih parah
bersusah payah melupakan, ujung-ujungnya malah ingat

melihat bulan malam ini, keingetan kamu yang suka ngeliatin bulan
pas subuh gak bisa tidur, pengennya denger suara kamu
nungguin notif ada PM baru.. berhari-hari
ngirim sms yang ujung ujungnya gagal terkirim

Mungkin jatuh cinta itu pahit, tapi patah hati itu sudah pahit, getir pula.

aku berubah banyak.. bukan membaik justru memburuk
aku bukan lagi aku yang enam bulan lalu mengenalmu
ya.. aku jatuh cinta, kamu.

disini berdua, aku dan ketakutanku
menunggu
menunggu kamu yang tak menungguku

hei kamu, nungguin siapa sih?


Wednesday, 5 March 2014

Tak Sama

Semua tak lagi sama,
atau hanya aku yang mengingkari hatiku sendiri

nyatanya,
aku diam-diam merindukanmu
hanya tinggal jejak-jejak cerita yang perlahan ku kumpulkan
sebelum aku kehilangan kenangan itu, tanpa sengaja lupa

"dorr!!"
itukah chat pertamamu kala itu?

aku tak tahu adakah kenangan yang indah yang harusnya ku ingat?
jangan-jangan memang tak ada
jangankan lupa, tak ada kenangan yang cukup indah untuk diingat

masih berharap janji itu terlaksana
entah kapan
bolehkah aku percaya bahwa janji itu akan ditepati?
ataukah biar kulupakan jadi tak ada lagi yang tersisa untuk disebut kenangan?

kemarin kamu mengirimkan pesan singkat, memintaku menelponmu
ahh sayangnya aku tak bisa mendengar suaramu
lagipula aku terburu-buru saat itu
sejam kemudian, nomer hapemu mati lagi, sampai hari ini.

kamu dimana? sehatkah??
rasa-rasanya perlu ku susun pertanyaan yang banyak untukmu

jika memang kamu berniat kembali
meski sesaat
seperti yang sudah sudah

Sunday, 23 February 2014

Maaf,

Maaf, aku menghapusmu dari daftar kontak di hapeku.
seluruhnya. History chat, sms yang terakhir kau kirim, nomer-nomermu yang lama.

bukankah aku tak seharusnya mengenalmu?
bukankah aku tak jatuh hati padamu?
bukankah aku lebih baik menjalani hidupmu tanpamu, seutuhnya?

terlambat.

aku mengenal sebagian dirimu yang kau ceritakan padaku.
aku jatuh hati.
dan aku tak sanggup menjalani hidup tanpamu.

sore tadi, sms terakhirmu, aku membacanya.
lalu ku hapus.

maaf. aku tak tahu kalimat apa yang akan ku kirim padamu.
bisa jadi hanya satu kata yang mungkin ku kirimkan, "kangen".

tahu diri.
dimana tempatku di hatimu? tak ada.

sudah jelas.

terimakasih sudah memberi kabar. hati hati di perjalananmu.

beradadisini : Kita
Mungkin kita memang sedang tidak hendak beranjak ke mana-mana.
Kita hanya sedang duduk-duduk di sini, menikmati waktu yang pelan-pelan menyelinap lewat kata-kata yang bermain di tepian jemari. Kita tidak sedang terburu-buru. Kita tidak sedang terlambat. Kita tidak sedang mengejar waktu. Tidak sedang bergegas menuju ke suatu tempat. Sesekali salah satu dari kita akan beranjak pergi. Yang lain tidak akan mempertanyakan, tidak akan mencegah, tidak akan mengejar. Cukup satu kedipan dan lambaian tangan, serta pesan: hati-hati di jalan.
Tak ada janji yang diucapkan. Ia yang pergi tak pernah berkata bahwa ia akan kembali. Ia yang tinggal tak pernah berkata bahwa ia akan menunggu hingga yang pergi kembali. Ini bukan tentang rasa percaya. Ini semacam rasa pasrah. Bahwa semua yang memang untukmu, pada akhirnya akan kembali padamu. Dan semua yang bukan untukmu tak akan menjadi milikmu, tak peduli sekuat apapun kamu mencoba.
Mungkin kita memang hanya saling menemukan, meski tak pernah saling kehilangan. Kita adalah dua orang yang kebetulan tengah duduk bersisian: lalu berbagi matahari, laut, langit, kapuk yang beterbangan, cahaya, ilalang, bebatuan, jejak bintang…
Aku akan sesekali pergi. Kamu akan sesekali pergi. Suatu hari nanti, kita mungkin akan pulang. Entah ke mana. Mungkin ke tempat ini lagi. Atau ke tempat lain. Mungkin aku kembali. Mungkin kamu kembali. Mungkin juga tidak. Tetapi semua itu bukan masalah. Karena saat ini kita memang sedang tidak hendak beranjak ke mana-mana.
Love you always,
Hani :)