Monday, 10 December 2012

Mascin : Kabar Angin

dan,

"Congratz Mascin for your marriage, happily ever after ya!"

Dari kabar angin tersiar bahwa Mascin akan menikah, Kapan?, entah lah.
Maka sebelum kabar angin jadi kenyataan gue persiapan dulu. Setidaknya pas hari H-nya dia gue bisa ngasi ucapan selamat meski hanya lewat dunia maya.
Kamu ikhlas, gak sedih, gak kehilangan? lah emang gue siapa, palingan gue bakal jadi baris terdepan barisan-patah-hati bersama ribuan orang lainnya. Hahaha.

Mascin : Ruang Bioskop

"Gemeteran ya? saya juga, tadi pas nonton AC-nya dingin banget." sambil tersenyum ke kamera dan gue terduduk di bangku bioskop paling depan. Masih gemeteran dan tetep usaha meng-capture momen pertemuan kedua ini.

Arrgghh.. ngeliat hasil jepretan pocket yang sebagian besar ngeblur. Tangan kanan gue gemeteran lagi kalau inget momen itu. Dasar tangan kanan!!

Mungkin, kalau Mascin bilang "Gemeteran ya? mesti grogi ketemu saya?", tangan kanan gue bakalan meng-capture dengan lebih baik. Lalu ngakak.

Manusia yang berhasil adalah orang yang bisa memanfaatkan first-moment dengan sempurna. Dan gua bukan manusia yang berhasil itu.
Terus?
Gue selalu ketawa kalau inget momen-tangan-gemeteran itu, cukuplah buat bahan penghibur kalau mood lagi turun.

*gagal upload foto : muka gue gak upload-able.*

Sunday, 9 December 2012

Jurang Harapan

Kenapa kita jatuh ke jurang? Karena kita dekat2 dengan jurang itu. 
Tidak akan pernah jatuh kalau posisi kita beratus2 kilometer jaraknya dari jurang. 
Hal sesimpel ini tidak akan mudah masuk penjelasan bagi orang-orang yang suka sekali dekat2 dengan 'jurang harapan', hingga suatu saat, jatuhlah dia dalam jurang itu, dan terbebanilah perasaanya dengan rasa sakit.
--Tere Liye

Saya ini pecandu harapan kelas berat, yang bisa saja ngayal sambil mengendarai motor, dan lupa berhati-hati.
Seringkali terbang tinggi sendiri, lupa dengan bumi, berhari-hari.
Ketika tersadar bumi sudah pagi.

Pagi, terang, mata tak lagi bisa dibohongi, luka itu menganga.
Dibiarkan saja. Toh esok akan sembuh sendiri.

Tak ada yang rugi, bahkan ayam yang berkokok tiap pagi pun tidak.
Saya sendiri pun tak merasa rugi.
Sebab selain pecandu harapan, saya terhitung pelupa.
Harapan-harapan yang beterbangan tinggi saat malam hari, hilang begitu saja ketika ayam berkokok.

Benarkah?
Ah jangan ingatkan kalau saya ini pembohong yang manis.
Toh waktu takkan marah jika dibohongi.

/Angan-angan lalu beterbangan tinggi, melupakan bumi.
/Menari.
/Melagukan sepi, sepotong hatinya dibawa lari.
/Maka ia membenci pagi.
/Lupa bahwa ia masih layak menetap di bumi, lalu bertemu sepotong hati baru dan jatuh cinta lagi.

/Jurang harapan yang bergelantungan rapi di langit membiru bukanlah potongan hati yang hilang itu.

/Tidurlah sebelum pergantian hari.
/Lalu bertemu pagi dan menikmati secangkir realita.

Regard,
Pecandu-Pelupa-Pagi

Thursday, 6 December 2012

Apa 'Cita-Cita'mu?

What is the key of your success? Be nice to your PARENTS. -Yasmin Ahmad-
Quote ini ada di film Demi Ucok yang premiere perdana di JAFFJogja kemarin. Awalnya saya kira film ini tentang perempuan 29 tahun yang dituntut oleh ibunya untuk segera menikah, sehingga sang ibu mencarikan jodoh untuk sang anak agar segera menikah. Ternyata tebakan saya salah, ini adalah film tentang hubungan ibu dan anak, film tentang bagaimana sang ibu mendukung anaknya untuk mengejar mimpinya.
Film ini bukan film lucu, begitu kata sang sutradara sekaligus writer dan produser dari film Demi Ucok. Menurut saya film ini akan membuat anda tertawa sekaligus menangis. Siapa yang tidak menangis melihat begitu besar cinta seorang ibu untuk anak perempuannya, anak perempuan yang tak mau menikah sebelum mimpinya terwujud. 
Hidup ini hanya ada dua pilihan : Cinta atau Takut. Kalau kamu takut pasti kamu akan salah arah. -Demi Ucok-
Sehari sebelum penayangan film ini di kampus saya ada presentasi beasiswa dari NCU Taiwan, narasumber langsung diimpor dari Taiwan. Saya tidak berani bertanya karena narasumbernya menggunakan bahasa inggris sedangkan saya ngomong inggris cuma bisa Yes, No, dan Thank you. Iseng. Akhirnya saya iseng bertanya pada narasumber, deg-degan, blekak-blekuk, asal nyeplos yang entah narasumbernya paham atau tidak. Saya mengajukan dua pertanyaan :
1. Apakah saya bisa mengikuti Kuliah Undergraduate di NCU Taiwan?
Mungkin bisa, selama saya bisa berbahasa Cina, karena sebagian besar mata kuliah menggunakan bahasa Cina. 
2. Apakah saya bisa kuliah di jurusan yang benar-benar berbeda untuk Graduate School, basicly saya Science mungkin gak kuliah Business atau Art?
Mungkin bisa tapi sulit karena kurangnya basic di jurusan yang berbeda tersebut. Perlu diskusi dengan PA untuk bertanya tentang jurusan Business atau Art tapi masih berkaitan dengan Science.

Sebagian orang pasti bercita-cita untuk bisa sekolah pascasarjana, saya pun begitu. Ibuk membebaskan saya memilih pascasarjana di Indonesia atau di luar negeri setelah lulus sarjana. Saya belum lulus, skripsi diabaikan, dan saya malah menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Biaya buat pascasarjana akhirnya dialihkan untuk mendaftar haji.
Sebutlah saya ini salah jurusan, pengen start-over gak mungkin, meneruskan studi tentang science nampaknya saya tidak mampu. Saya bukan pecinta Science. Lalu apa yang kamu cintai? Saya pecinta jalan-jalan, penikmat film romantis, pecandu Running Man. Saya bermimpi jalan-jalan ke luar negeri, tapi bukan untuk belajar.
Kesimpulannya saya sedang galau skripsi yang gak kelar-kelar, masa depan yang belum saya pilih, calon suami yang gak muncul-muncul, usia yang udah tidak muda lagi. Pahit.

Tapi jawaban itu sudah ada.
Apa 'cita-cita'mu? -Be nice to my parents
Yang artinya saya harus segera lulus dan bertoga. Itu dulu untuk saat ini. Besok ? I want to being grateful for everything that Alloh gave to me.

Being Grateful for 2013.
-Karena mimpi takkan berlari. Endah n Resha-

Apa Cita-Citamu?

      Pertanyaan itu terngiang-ngiang terus di kepala saya, sederhana, saya masih belum bisa menjawabnya. Apa harus saya jawab saat itu juga? lalu otak dan hati saya mendadak kelu. Saya benar-benar tidak tahu apa jawabannya, singkatnya saya tidak tahu apa cita-cita saya.
      Saya sensi sekali jika ada yang bertanya mengenai cita-cita pada saya. Pertanyaan ini tentunya memiliki jawaban, anak SD saja bisa menjawabnya, cita-cita mereka bermacam-macam, ingin menjadi dokter, menjadi pilot, menjadi superhero, tak akan ada habisnya jika mereka ditanya tentang apa cita-citanya. Lalu pertanyaan itu dilontarkan oleh Ibuk pada saya suatu sore, saya hanya tersenyum saja, pahit.
      1989.Ibuk menikah dengan Bapak sebelum menyelesaikan kuliah, alasannya karena orangtua Ibuk tidak sanggup membiayai kuliah Ibuk. Dengan terpaksa Ibuk putus kuliah dan menikah dengan Bapak, meninggalkan bangku kuliah tanpa ijazah, memupuskan cita-citanya menjadi seorang Guru Matematika.
      Awal 1991, lahirlah bayi perempuan, anak pertama yang lahir di perantauan, jauh dari orangtua, kemudian Bapak dan Ibuk memutuskan pulang kampung. Ibuk mengubur cita-cita lamanya, dengan cita-cita baru Ibuk survive, kerja serabutan agar bayinya bisa memakai baju baru yang layak. Cita-cita Ibuk adalah melihat anak-anaknya bisa kuliah, Ibuk memeras keringat bekerja dari jam 6 pagi hingga maghrib.
      2012... Anak perempuannya mengulur-ulur kelulusannya dan anak kedua, laki-laki 7 tahun lebih muda dari si kakak, sedang dalam masa pubertas di SMP.
Cerita ini belum berakhir.
      Pertanyaan itu sudah ada jawabannya, entah benar atau salah. Apa 'cita-cita' saya? Saya tidak ingin menjadi seperti ibuk saya, menikah lalu mengubur cita-citanya, terlalu sibuk bekerja hingga lupa bahwa anak-anaknya membutuhkan kasih sayang, bukan cuma uang. Saya ingin menikah dan menjadi ibu rumah tangga, 24 jam selalu ada untuk anak-anak saya kelak.
Hahaha.. itu mungkin bukan cita-cita, sebab itu kewajiban bagi seorang wanita.
      Saya masih punya cita-cita lain yang akhirnya tercapai setelah 8 tahun, entah itu cita-cita, harapan, doa, entah apalah namanya. 8 tahun untuk cita-cita sederhana, saya menginginkan keluarga harmonis seperti keluarga lain dan melihat Bapak Ibuk saling mendukung satu sama lain.

Fin.