Saya mau becerita tentang keluarga saya, mungkin sedikit cerita bagaimana saya sampai di titik ini, hari ini.
Bapak Ibu bertransmigrasi ke Riau setelah menikah pada Oktober 1989. Mengikuti jejak saudara-saudara Bapak yang sudah lebih dulu berangkat transmigrasi, membuka lahan lalu menanam sawit. Bahkan ada paman yang sukses dan menetap di Riau hingga sekarang.
Saya lahir Januari 1991, pagi hari, dibantu seorang dukun bayi. Ibu melahirkan bayi perempuan pertamanya tanpa satupun saudara di sisi beliau, tentu ada Bapak di sisi Ibu. Suatu kali Bapak membelikan susu kemasan yang sangat mahal, sayangnya saya lebih doyan ASI ketimbang susu kemasan. Pun sampai TK kebiasaan nyusu itu masih berlanjut. Ibu pernah bilang kalau pas saya rewel begitu disusui langsung anteng. hahahahaa.. bad habit deh sampai saya TK atau mungkin SD yaa ^^
Tak genap setahun setelah saya lahir, Ibu meminta pulang ke Jawa karena tidak betah hidup jauh dari keluarga. Keluarga kecil ini akhirnya pindah ke Jawa dan tinggal di rumah milik paman saya yang tidak ditempati.
Keluarga saya memang keluarga sederhana, njawani, hidup sederhana, secukupnya, bisa makan dan menyekolahkan anak sudah cukup.
Bapak bekerja di penggilingan padi dan Ibu kekerja sambilan sebagai buruh tani. Sejak kecil saya terbiasa ditinggal Bapak Ibu untuk bekerja.
Karena kebutuhan hidup yang semakin besar, Ibu memutuskan menjual perhiasan dan tabungan untuk menyewa sebuah warung di pasar desa. Alhamdulillah ekonomi keluarga mulai membaik, bisa membeli tanah dan membangun rumah sederhana.
Saat awal kehamilan adik saya, selama dua bulan ibu tak mampu berpindah dari kasur. Namun bulan selanjutnya Ibu bisa beraktivitas normal bahakan hingga mendekati kelahiran adik saya, Ibu masih sanggup belanja kebutuhan warung ke pasar besar Sragen.
Adik saya, laki-laki lahir saat saya berusia tujuh tahun, Desember 1998.
Hal yang masih saya ingat dari masa kecil saya adalah tayangan tivi Condor Heroes dan Cinta Paulina. Berkesan karena saya nonton tivi di rumah tetanggga bareng ibu-ibu yang lain, diam-diam. Tahun itu tivi masih barang langka.
Beberapa tahun kemudian Bapak bisa membeli televisi 21 inch yang masih menyala sampai sekarang. Saat Bapak Ibu lembur di warung, saya ditemani pengasuh adik saya menonton tivi di rumah. Kalau mau makan ya bikin mie sendiri ^^
Banyak yang mengira saya ini mandiri, sejujurnya saya cuma anak kecil yang kesepian dan iri dengan anak seumurannya yang ayah bundanya sering di rumah dan memasak untuk anaknya.
time flies...
Satu warung kecil itu berhasil mengantarkan saya ke bangku kuliah, berkat kerja keras dan ketekunan Ibu.
Sekarang tahun keenam saya di kampus, huft.. mungkin gara-gara dulu sering mbatin kakak angkatan yang gak lulus-lulus.. err saya harusnya meminta maaf pada mereka :(
Saya diajarkan untuk hidup secukupnya, ya saya bisa. terbiasa. Dulu bisa berkumpul dan bercanda dengan Bapak Ibuk adalah barang mewah, sekarang saya bisa merasakannya. bahagia.
Mungkin kebiasaan yang belum bisa saya ubah adalah menghabiskan waktu menonton drama.. hehehee.. susah :p
Hani (ditemani drama korea dan fairytalenya)
No comments:
Post a Comment