Thursday, 13 February 2014

Bulan Merah Jambu

Kepada lelaki yang malam ini memandangi bulan,
entah di belahan bumi mana. unlocated.


Tak perlu basa basi, aku hanya ingin bilang, aku masih marah sama kamu.
Kamu yang tak ada kabar lalu membatalkan janji bertemu. Tanpa kata maaf sepatahpun.
Sibuk katamu.

Aku bermimpi, kalau saja aku lebih penting dari segala kesibukanmu, tapi siapalah aku.

Mungkin sahabatku sudah bosan dengan semua curhatku yang semuanya tentang kamu.
Dia bilang, "tak usah menyalahkan siapapun, perasaan itu bukan kita yang ciptakan, tapi itu hadiah Tuhan buatmu."
Perasaan ini, yang memaksaku untuk mengajakmu bertemu. hehehe.
yang sebelumnya ku sangkal, aku hanya bersimpati padamu. tidak lebih. siapa tahu dengan bertemu denganmu aku bisa yakin dengan apa yang kurasakan.

Terlanjur ku terbangkan tinggi-tinggi harapanku, aku pasti bertemu kamu sebelum bulan ini berakhir, bulan lalu. Kuyakinkan diriku setiap malam, meskipun tak ada kabar darimu hingga berbilang dua puluhan hari bulan itu.

Manusia berencana, tapi Tuhan (dan kamu) yang tentukan.

Masih kusimpan history chatmu terakhir itu, bahwa kamu terlalu sibuk bahkan sekedar meluangkan setengah hari untukku pun tak bisa. Aku sangat marah, tapi aku bisa apa, aku bukan siapa siapa.

Harapan yang terlanjur kuterbangkan tinggi-tinggi, terhempas begitu saja. sakit sekali rasanya. aku menghilang hampir seminggu, kurayakan hari ulang tahunku di akhir bulan dengan luka. Awal tahun yang menyakitkan.

Hingga hari ini aku masih mengunci diriku, membiarkan luka itu menghancurkanku. Biar saja, sampai aku gila pun tak apa.

Aku yang terlanjur percaya padamu, bahwa kamu berbeda, kamu laki-laki yang selalu menepati janji, ternyata bullshit!!

Kamu hilang. tak pernah muncul lagi di chatku, tak ada lagi telepon tengah malam. terkadang aku terjaga hingga pagi, berharap kamu muncul.

ini sudah terlalu lama, aku muak, lelah dengan perasaanku sendiri. Kalau katamu biar Waktu yang menentukan, jika memang waktunya bertemu pasti bertemu. Ya sudah.

malam ini, aku menulis surat buat kamu,
kangen. cuma kangen doang sama cerita dan pikiran-pikiran gilamu.

merapal kangen. k-a-n-g-e-n.
di sela hujan yang perlahan menetes, di mataku.



Love you always,
Hani. ^^,

No comments:

Post a Comment