Thursday, 19 December 2013

Sebuah pengakuan


" I  love you. (and it will be forever.)"

"Thanks honey... (… sorry, I have never loved you.)"
source : hujandisenja


Seluruh otakku dipenuhi namamu, delusiku. hampir tak ada ruang kosong untuk yang lain.
tanpa kusadari, kamu sudah mengambil alih bagian lain yang kusebut hati.

perasaan ini menjelma menjadi delusi.

aku tak mampu berbicara tentang perasaan denganmu. aku tak mau.
tak mau kamu tahu bahwa kamu yang memenuhi otak juga hatiku.
aku terlampau pengecut untuk kalah.
untuk sebuah jawaban, "maaf.. aku hanya menganggapmu sebagai teman"

bisa jadi, aku hanya desau angin yang mampir sejenak di hidupmu.
sayangnya, di dunia delusiku, kamu bagian penting yang tak bisa kuhapus begitu saja.

aku menyangkal perasaan semu ini di awal.
hingga kini aku menyadari, awalnya aku sudah tertarik denganmu, dengan kisah hidupmu, dengan keras kepalamu, dengan kesepianmu.
namun kusangkal.
karena di awal, hatimu sedang goyah karena perempuan, saling mengenal dan menyayangi meski tak pernah berjumpa.
aku mau berteman denganmu, mendengar cerita-cerita yang selama ini kamu simpan rapat-rapat.

lambat laun delusi itu mengambil alih.
cemas saat tak ada kabar darimu, diam-diam merindukan suaramu.
bahkan aku menjadi bukan aku saat berbicara denganmmu, kadang aku tanpa sadar mendebatmu karena tersulut emosi. mengutukmu saat berselisih paham.

ini bukan aku. bukan diriku.

aku lelah membohongi hatiku. aku lelah berpura-pura.
lelah menanti kabar darimu. lelah dengan delusiku sendiri.

delusi.
suatu hari (mungkin) kita bersama.
suatu hari aku adalah alasan kebahagiaanmu.
bahwa kamu tak sekedar menganggapku teman bercerita.
delusi.

siapa kamu? aku tak pernah melihat wujudmu tapi kamu nyata.
mengapa kamu? aku merasa simpati dengan masa lalumu.
dimana kamu? kamu hidup di dunia nyatamu (dan aku bersembunyi di dunia delusi).

aku tertarik padamu dari awal, hingga detik ini.
tentu saja aku takut kamu tak tertarik denganku.

siapa saja.. bantu aku keluar dari delusi yang kuciptakan sendiri?? aku keracunan dan terperangkap delusi.



Hani.

No comments:

Post a Comment