'Itu namanya laron sayang.. dia terbang buat mencari pasangan, kalo ketemu dia akan membangun koloni baru.. kalo gak dapet pasangan ya mati.' jawabku sambil memikirkan cara mengusir laron itu secepatnya.
***
Paragraf di atas cuma khayalan saja.
***
***
Musim penghujan terlambat datang di kota kami. Sudah hampir sebulan sumber air mengering. Air tiba-tiba menjadi barang langka nan mahal harganya. Daun-daun kembang favorit ibu mengering sebagian saking panasnya kota ini. Separuh daun di ujung mengering sedang pangkalnya masih hijau. Bukan tak sayang dengan kembang-kembang tersebut, namun sumur di rumah tak mampu memenuhi bak mandi seukuran 1x1 meter, mana cukup untuk menyiram puluhan pot kembang di depan rumah. Tak sampai tiga hari kemudian kembang itu layu dan mati.
Kali di samping rumah pun menyusut sedikit demi sedikit volume airnya. Hingga dasarnya terlihat. Kali bukan lagi mengalirkan air namun menampung daun bambu yang jatuh. Kalau saja dasar kali ini rata mungkin adik laki-lakiku dan teman sebayanya bisa bermain bola di kali yg mengering ini.
Entah bagaimana nasib petani yang menanam padi dan membutuhkan banyak air untuk sawahnya. Saat melewati pematang sawah menuju rumah kakek, banyak lahan sawah yang dibiarkan begitu saja, tak punya air katanya. Beruntunglah petani yang memiliki sumur dan diesel sendiri, air tetap mengalir.
Musim kemarau cukup panjang tahun ini. Entah mengapa, ada yang bilang pemanasan gobal, lubang ozon berlubang, polusi karbondioksida. ah aku tak paham.
Sore ini muncul laron-laron kecil mengitari lampu di teras. Akhirnya musim penghujan yang ditunggu datang. Lalu apa hubungannya dengan laron bersayap tipis yang sebagian berjatuhan ke lantai itu?
Laron merupakan fase dewasa dari rayap yang hidup secara berkoloni. Rayap-rayap dewasa memiliki sayap untuk terbang dan mencari pasangan. Setelah bertemu dengan pasangannya mereka jatuh ke lantai dan mencari celah di sela tanah ataupun kayu yang busuk untuk membentuk koloni baru.
Luar biasa. Dari puluhan ribu laron hanya sebagian yang selamat dan melewati fase berikutnya. Sisanya yang kurang beruntung akan berakhir di penggorengan dan berubah wujud menjadi peyek laron. Peyek laron rasanya gurih seperti peyek udang, coba buktikan sendiri karena saya belum pernah sekalipun mencoba. Melihat laron yang jatuh tak berdaya ke lantai lalu nggeremet kemana saja sudah bikin saya geli. Untuk yang berniat menyicipi silahkan saja.
Sungguh ajaib ribuan laron tadi menghilang dengan singkat, tak ada lagi beterbangan di sekitar lampu. Mungkin si laron sudah bertemu pasangan sejatinya dan sedang di mabuk kepayang. Sebentar lagi mungkin akan ada gundukan tanah baru ataupun kayu lapuk berisi ribuan rayap. Ratu dan anak-anak rayap mendapat asupan gizi dari jamur pada kayu yang dilapukkan oleh sang ratu rayap dan pekerjanya. Menakjubkan.
Rintik hujan mulai terdengar dari atap rumah, anakku tertidur lelap dengan dongeng tentang laron barusan. Selamat malam dan tidur yang nyenyak sayang :*
Kota seribu cahaya,
Hani.
No comments:
Post a Comment