Sunday, 27 October 2013

An na ra su ma na ra

Lup dapat membakar objek karena memfokuskan cahaya matahari. Pengalaman hidup kita itu ibarat cahaya matahari tadi. Untuk mengarahkan hidup kita ke satu titik tujuan yang sebenarnya bias. Bias seperti cahaya matahari itu sendiri. Namun ketika banyak bias cahaya yang kita fokuskan, maka muncullah api kehidupan yang akan menjadi pelita di hidup kita. Pelita yang menerangkan jati dirimu. -Lingling-

Pernah membuka catatan lama di buku diari? atau mungkin celotehan di sosial media? Ketika bergerak mundur ternyata waktu bergerak begitu cepat meninggalkan cerita-cerita berbeda di tiap masanya. Begitu banyak cerita hingga tak semuanya tersimpan dengan jelas dalam memori yang terbatas. Cerita itu sebagian dari bias cahaya.

Aku bukan lagi lilin yang akan membakar dirinya untuk menerangi sekitarku. Aku mau menjadi lup.

Bagaimana seorang lilin berubah menjadi seorang lub? Tentu mungkin. Timbang menjadi lilin yang berdebu di sudut ruangan tanpa nyala api, bukankah berubah itu lebih mudah?

Lihatlah sekitarmu, apa yang dulu dibenci sekarang bisa jadi fanatik. Yang dulu kau kagumi sekarang rasanya biasa saja. Kekecewaan pun berganti kebahagiaan. Apa-apa yang berubah, luka-luka yang sembuh, dan hati-hati yang pincang bergerak bersamaan dengan waktu.

Takkan selamanya cahaya yang datang selalu terang, kadang hitam, kadang abu-abu. Bahkan di hari kelabumu, bisa saja cahaya datang dengan warna merah muda. Tak perlu susah payah menebaknya, cahaya itu akan datang kapan saja. Rahasia.

Saat cahaya itu hitam legam, hujan besar turun pada siang yang terik. Tak kuasa menolak. Bisa saja berlari atau memilih mati. Bertahan. Hanya itu yang kucoba lakukan.

Merubah bentuk.

Perlahan-lahan hingga menjadi lup yang mampu memfokuskan bias matahari.


Cheers,
Hani. 


No comments:

Post a Comment