Tuesday, 7 March 2017

Pria di Mimpi.

Beberapa hari belakangan, aku mengingat mimpi mimpi yang kualami setelah terbangun dari tidur.
Ini gara gara terlalu banyak yang dipikirin atau tidurnya yang kelamaan?? Heu.

Mimpi indah itu cukup terjadi saat tidur, kemudian mengingat detil mimpi itu saat terbangun tidaklah menyenangkan. Mimpi tentang pria yang di dunia nyata sudah beristri, bertemu di mimpi saja cukup. Mengingatnya itu yang menyebalkan. Adalagi tentang pria yang tinggalnya terpisah ribuan kilometer, bertemu di dunia nyata sangat tidak mungkin. Lalu berharap dan berkhayal hidup bersama, seperti tahan banting saja hatimu Han. Jika suatu hari ada kabar dia ternyata sudah beranak dan beristri, gimana lagi kamu menyelamatkan hatimu yang kamu patahkan sendiri??

Ngarep dan bermimpi. Bukan sesuatu yang layak dijadikan hobi. Setiap hari begitu, bagaimana kamu bisa menghadapi masa depan?
Disindir sedikit saja langsung baper. Gagal tes pauli terus mewek.
Usahamu mana?
Semua orang bekerja untuk cita cita dan hidup mereka, kamu ngapain? tidur, mimpi, ngarep?? begitu terus.

Membayangkan melepas kenyamanan di kota ini saja kamu tak sanggup.
Mau dibawa kemana hidupmu? sudah 26 lho.

Aku pengen pergi, ribuan kilometer dari sini, biar ada kesempatan ketemu si masnya itu.
Kabur.
Kabur.
Kabur.
Biar dibilang mengejar mimpi ke luar negeri, padahal alasan sebenarnya kamu tak sanggup lagi berjuang. Tak mampu lagi menghadapi pertanyaan semua orang. "Kenapa belum bekerja?" "Kapan mau nikah?"

Kabur adalah tindakan pengecut. Itulah yang ku rencanakan.
Aku hanya ingin pergi, ribuan kilometer dari sini, biar tak ada yang nanya lagi, kapan aku rabi. Damn. Kalau gak bisa nyariin calon suami stop nanyain napa.

Baper.

Semoga ada jalan untuk kabur. Untuk beberapa waktu. Ribuan kilometer dari sini. Dari kota ini yang kelewat nyaman untuk ditinggal pergi.

Aku akan pergi, membawa ransel berisi mimpi, ketemu kamu lagi pagi ini, meski lewat mimpi.

Cium jauh untuk mas ganteng yang disana.
Sampai ketemu. Di dunia nyata.

Selamat tidur, pagi.

1 comment: