Ganjil itu adalah genap yang tertunda.
Seringkali aku mendengar kalimat tersebut, terasa ganjil.
Akhir-akhir ini perasaan ganjil itu kerap menghampiri saat malam menjelang pagi, rasa itu menjadi.
Hidupku tidak menyedihkan, aku menjalani tiap harinya dengan bersenang-senang.
Namun masih ada yang kurang, ganjil.
Ada yang tidak langkap dari semua yang kulakukan sendirian.
Bersenang-senang sendirian itu menyedihkan.
Genap itu saat bergosip sore hari sambil makan bersama teman-teman kos.
Genap itu bertukar senyum dengan orang yang tak dikenal di kerumunan.
Genap itu mendengarkan kisah hidup seorang ibu muda yang kehilangan sang suami.
Genap itu berdua, bertiga, berbanyak, bersama.
Hingga malam ini akhirnya aku menyadari, aku menginginkan genap.
Tak sanggup lagi menjadi ganjil, benar tak sanggup.
No comments:
Post a Comment